Rindu Ziarah Menuju Baitullah #1

Tahun 2003, ialah tahun paling berkesan dalam kehidupan saya. Pada tahun ini pertama kali saya ziarah ke tanah suci bersama ibuku tercinta. Berangkat ikut kloter dari Tegal, waktu mau berangkat dari rumah menuju tempat pelepasan di kantor Kabupaten hatiku was-was. Apakah pantas saya datang ke rumah Allah? Pertanyaan ini selalu mengusik saya. Namun, pada akhirnya saya menguatkan niat dan berusaha membuang keraguan. Sembari mengucapkan bismillah saya pun berangkat.

Penerbangan ke tanah suci menghabiskan waktu sekitar sembilan jam dari Solo. Sesampainya di Bandara King Abdul Aziz, Jedah, kemudian saya melanjutkan perjalanan sekitar satu setengah jam menuju Mekkah. Setelah chek in di hotel, bersama rombongan menuju Masjidil Haram, sampai halaman masjid saya terkagum-kagum dengan kemegahan masjidil haram, tangan saya ditarik oleh ibu, untuk segera masuk masjid. Kaki rasanya berat sekali untuk melangkah masuk, hatiku gemetar melihat Ka’bah dari kejauhan, lututku terasa lemas, tidak pantas rasanya untuk datang ke rumah-Nya. Karena terus ditarik ibu saya, akhirnya saya masuk juga ke Masjid. Dengan membaca doa ketika melihat Kabah yang saya telah hafalkan sewaktu manasik, saya terus berjalan mendekati Kabah.

Akhirnya saya sampai pada sudut berlampu hijau, tanda dimulainya thawaf. Setelah tujuh kali putaran, kemudian shalat dua rakaat di belakang makam Ibrahim. Setelah shalat itulah saya mengakui seluruh kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa yang selama ini saya lakukan. Tak terasa air mata ini meneteskan tanpa saya sadari. Dalam doa tersebut saya memohon agar pertemuan ini bukan yang terakhir, saya memohon agar setiap tahun dapat berkunjung ke rumah-Nya.

Setelah beberapa Minggu tinggal di Mekkah, maka datanglah masa yang ditunggu-tunggu, untuk melaksanakan ibadah haji, bermalam di Muzdalifah, menuju Mina dan melempar Jumrah. Kemudian kembali ke Mekkah untuk melaksanakan thawaf Ifadoh, maka selesailah ritual haji itu.

Sebelum meninggalkan Mekkah untuk menuju Madinah, saya melaksanakan thawaf wada atau thawaf perpisahan dan disitu juga air mata tidak tertahankan menangis di hadapan-Nya. Berat rasanya meninggalkan tanah suci. Setelah chek out seluruh rombongan menuju Madinah untuk melakukan shalat Arbain selama delapan hari. Delapan hari di Madinah, aktivitas hanya beribadah di masjid Nabawi dan ziarah ke makam Rasulullah. Setelah delapan hari, seluruh rombongan diberangkatkan menuju Jedah untuk diterbangkan pulang ke tanah air.
Beberapa bulan setelah pulang ke tanah air, saya selalu terbayang-bayang dua tanah suci (Mekkah dan Madinah). Sehingga pada bulan April 2005 saya datang lagi untuk melaksanakan umrah sendirian. Perasaan saya ketagihan untuk datang ke tanah suci, sehingga pada bulan Oktober 2005 saya datang lagi bersama istri. Pada tahun 2006, umroh kedua pun dilakukan lagi bersama istri. Setelah itu setiap bulan Ramdhan saya selalu datang hingga sekarang.

Awalnya, saya mengira hanya saya yang sering bolak-balik ke tanah suci untuk ibadah umroh. Ternyata setiap ramadhan ketika umroh itu sering bertemu dengan orang-orang yang dulu satu rombongan. Saya sering bertanya pada teman-teman satu rombongan itu, kenapa sering bolak-balik ke tanah suci dan jawabannya hampir sama, karena: Pertama, ada kerinduan yang sangat mendalam kepada Baitullah. Kedua, ada ketenangan tersendiri kalau tinggal di tanah suci. Ketiga, setiap doa yang dipanjatkan selalu terkabul, sehingga mereka dengan mengeluarkan uang dan tenaga tidak menjadi persoalan, bahkan saya pernah satu hotel dengan seseorang yang berasal dari trasmigran Papua yang telah 18 kali datang ke tanah suci. Subhanallah.
Sampai hari ini – ketika artikel ini ditulis – saya masih memendam kerinduan mendalam untuk kembali berkunjung ke Baitullah. Di sana saya menemukan kepuasan spiritual yang tak terkira. Tidak dapat dituliskan dengan kata-kata. Tidak ada alasan dan halangan untuk berkunjung ke negeri kelahiran Muhammad Saw. itu, karena saya yakin Allah akan memberikan kecukupan untuk berangkat ke sana.
(bersambung)

 

3 Responses to Rindu Ziarah Menuju Baitullah #1

  1. Dwi says:

    Subhanallah…tulisannya ringan tp enak dibaca…
    Tiada tempat yg sudah dikunjungi kemudian menimbulkan rindu, kecuali Baitullah….
    Doakan sy bs melaksanakan rukun Islam ke 5

  2. lilis setiowati says:

    semoga kerinduan yang dirasakan, akan menular ke seluruh pembaca. dan semoga diberikan rezeki dan keberkahan kepada semua yang merindukannya. amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>